Tuesday, July 7, 2020

Memanfaatkan Kebangkitan Ekonomi China







Munculnya China sebagai kekuatan ekonomi baru di dunia bukanlah sesuatu yang mustahil. Bahkan, kebangkitan ekonomi China diperkirakan akan mengakhiri sikap unilateralisme AS sebagai akibat ketiadaan kekuatan baru yang mampu mengalahkan AS pasca runtuhnya komunisme Uni Soviet.
Sementara itu, kekuatan ekonomi Eropa dan Jepang diperkirakan masih mengalami stagnasi sehingga kekuatan ekonomi China diperkirakan akan menjadi kekuatan ekonomi di Kawasan Asia Pasifik (KAP) yang mendorong pertumbuhan dan dinamika ekonomi global.
Futurolog John Naisbitt (Megatrend Asia, 1995) sudah memperkirakan dalam abad XXI, perekonomian KAP akan beralih ke perekonomian yang dikuasai China dan orang-orang China perantauan (hoakiao). Dalam pergeseran kekuatan ekonomi Jepang ke orang-orang China, bukan hanya China Daratan (RRC) yang berpengaruh, melainkan juga peran pengusaha hoakiao.
Perkembangan Ekonomi China
Tanda-tanda kemajuan China itu bisa dilihat kasatmata. Pasar barang konsumsi Indonesia beberapa tahun terakhir ramai disesaki produk impor dari sejumlah negara Asia, terutama China. Produk konsumsi asal China sangat mudah ditemui, baik di pusat perbelanjaan mewah maupun di pasar yang becek sekalipun. Pesatnya pertumbuhan ekonomi China mendorong mereka melakukan ekspansi pasar besar-besaran.
Ekspansi pasar meski terkesan dilakukan dengan hatihati, cukup meresahkan negara-negara tetangga, Jepang, Korea Selatan, dan negara ASEAN, karena diikuti basis pertumbuhan ekonominya yang kuat. China telah tampil sebagai the new miracle of Asia, sejajar dengan negara-negara the big economic of Asia seperti Jepang, Singapura, Korea Selatan, Taiwan, dan Hong Kong, yang pernah disebut-sebut sebagai pusat keajaiban ekonomi Asia.
Dibandingkan dengan Jepang yang tengah menjalankan program zero growth, pertumbuhan ekonomi China saat ini mencapai 8%. Kesuksesan ini merupakan bagian dari strategi market economy yang menjadi orientasi China pasca-Jiang Zemin. Reformasi Partai Komunis China (PKC) dalam Kongres November 2001, dengan memasukkan kelas kapitalis (shehui qita fangmian de youxiu fenzi) ke dalam unsur PKC, tidak hanya bertujuan merombak total hubungan majikan-pekerja dalam tradisi komunis China, tetapi juga memperkuat basis pendukung kapitalis China melakukan ekspansi pasar guna mempercepat pertumbuhan ekonominya.
Bagaimana kita tidak tertegun takjub bila menyimak data dan fakta perekonomian China. Bayangkanlah sebuah negara dengan penduduk terbesar di dunia, dihuni 1,286 miliar jiwa, tetapi perekonomiannya mampu tumbuh 8% per tahun. Bandingkan dengan Indonesia yang penduduknya 215 juta orang, tetapi pertumbuhan ekonominya hanya 5–6%. Negara ini juga mampu mengekspor produknya sebesar USD325 miliar, sementara nilai impornya hanya USD295 miliar, sehingga terdapat surplus USD30 miliar.
Sekali lagi, bandingkan dengan Indonesia yang ekspornya sekitar USD60 miliar dan impornya di atas USD50 miliar. Kuatnya kinerja ekspor dan surplus perdagangan inilah yang menyebabkan China mampu menumpuk cadangan devisa mencapai USD291 miliar pada 2002 menjadi USD987,9 miliar pada September 2006. Bandingkan dengan cadangan devisa Indonesia yang diperkirakan mencapai USD41,5 miliar hingga akhir tahun ini.
Di samping itu, selama krisis ekonomi pelarian modal Indonesia ke China, juga diperkirakan nilainya cukup besar. Padahal, hingga kini Indonesia justru kekurangan modal untuk investasi sehingga harus berjuang untuk menarik modal China ke Indonesia. Pada masa krisis finansial yang melanda Asia pada 1995 hingga 2000, investasi asing langsung (foreign direct investment/FDI) ke negaranegara Asia pada umumnya stabil.
Bahkan, ada kecenderungan meningkat setelah reformasi dilakukan. Akan tetapi untuk Indonesia, FDI merosot secara tajam. Kemerosotan ini bukan disebabkan faktor China, tetapi lebih karena efek krisis finansial 1997–1998 dan persoalan internal Indonesia sendiri, seperti adanya ketidakpastian politik, sosial, dan ekonomi.
Kunci utama bagi Indonesia untuk menarik kembali investasi adalah melanjutkan program reformasi dan mengembangkan ceruk yang ada dalam ekonomi global dan pasar China. Kebangkitan ekonomi China memengaruhi Indonesia juga karena mereka memerlukan sejumlah komoditas untuk pembangunan negara besar tersebut.
Masa Depan China
Apakah kebangkitan ekonomi China akan memberikan dampak positif terhadap negara tetangganya, terutama negara di kawasan Asia Tenggara khususnya Indonesia? Menghadapi fenomena China ini, kita harus bersikap positif. Perkembangan China ini bagaimanapun harus kita manfaatkan. Dengan jumlah penduduk yang hampir satu setengah miliar adalah potensi pasar yang besar.
Potensi pasar yang besar ini akan meningkatkan permintaan produk barang dan jasa serta barang modal. Demikian pula, industri mereka juga berkembang sehingga memerlukan bahan impor untuk mendukung perkembangan ekonomi mereka. Mereka juga memerlukan perluasan investasi di negara-negara lain yang terkait dengan industri mereka.
Sejauh ini, hubungan ekonomi China dengan Indonesia juga terus berkembang. Hubungan China Indonesia telah mengalami banyak kemajuan. Perdagangan antarkedua negara selama periode 2001–2005 neraca perdagangan Indonesia dalam posisi surplus dengan tren pertumbuhan sebesar 18,69%. Total nilai perdagangan Indonesia- China pada 2005 yang tercatat di Biro Pusat Statistik (BPS) sebesar USD12,5 miliar.
Total nilai perdagangan itu meningkat 43,63% jika dibandingkan dengan 2004 yang mencapai 8USD,7 miliar. Impor China dari Indonesia utamanya adalah minyak sawit, minyak mentah, dan kayu gelondongan. Sementara ekspornya terutama adalah perlengkapan elektronik serta berbagai mereka sepeda motor. Ini bisa kita lihat dari maraknya produkproduk China seperti motor dan permesinan seolah hendak menenggelamkan produk saingannya dari Jepang.
Selama ini, pengaruh China terhadap negara-negara Asia Tenggara memang masih kecil. Mesin pertumbuhannya belum kuat mendorong negara lain, walau diperkirakan makin besar di tahun-tahun mendatang. Dengan kata lain, sehatnya ekonomi China memberikan dampak positif pada pertumbuhan negara tetangganya.

No comments:

Post a Comment